Senin, 24 Februari 2020

Inflasi di Kotabaru Mencapai 0,68 Persen

GEMA, PULAULAUT - Masih tinggunya inflasi di Kabupaten Kotabaru hingga 0,68 persen lebih tinggi dari daerah lain membuat daerah yang berjuluk Bumi Saijaan itu melakukan rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalsel dan TPID Kalimantan Selatan untuk menekan inflasi tersebut agar tidak lebih melonjak.

Dalam rapat tersebut mengangkat tema "Stabilitas harga menuju Indonesia maju, sinergi meningkatkan ketersedian pangan melalui korporatisasi dan digitalisasi UMKM", Kamis (20/2/2020) di ruang rapat perekonomian.

Nampak acara itu dihadiri Asisten II perekonomian Kotabaru, perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalsel, Kabag Perekonomian Kabupaten Tabalong, Badan Pusat Statistik (BPS) Kotabaru, Badan Urusan Logistik (BULOG) Kotabaru dan anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotabaru.

Informasi dari Badan Pusat Statistik Kotabaru bahwa Komoditas saat ini yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi yaitu, bayam, ikan tongkol, ikan selangat, udang basah, dan angkutan udara.

Sedang komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi yaitu, daging ayam ras, labu parang, kacang panjang, susu bubuk untuk balita.

Ditemui usai acara, Assisten II Bidang Perekonomian H Akhmad Rivai, mengungkapkan akan mengoptimalkan instansi-instansi terkait untuk bisa menekan angka inflasi di Kotabaru.

Ia, pun, memaparkan, bahwa ada beberapa faktor yang mengakibatkan naiknya angka inflasi di Kotabaru seperti komuditas sayur mayur yang selama ini datang dari Surabaya dan Makasar, sedangkan dari komuditas ikan diakibatkan karena cuaca buruk yang membuat para nelayan tidak dapat melaut.

"Insya Allah, semoga di tahun ini kita dapat menekan angka inflasi, kalau bisa diangka 0 karena sebentar lagi mau masuk bulan Ramadhan," kata Rivai.

Jadi jelasnya, harus ada campur tangan dari semua pihak agar inflasi di Kotabaru bisa di atasi apalagi di hari besar seperti ramadhan, idul fitri, dan lainnya lonjakan pasti akan terjadi.

Disisi lain, Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalsel, Rahmat Dwisaputra mengatakan, untuk menekan inflasi, harus memperbaiki dari sisi hulunya, seperti sayur mayur yang didatangkan dari luar Kalimantan sangat tergantung distribusi.

Sedangkan dari sisi kerjasama antar daerah, kita sudah memetakan daerah mana saja yang mengalami surplus barang-barang seperti beras, telur bebek, dan bawang merah, yang kita anjurkan untuk dijual dulu ke daerah kalimantan sebelum keluar kalimantan.










- Penulis : Fadjeriansyah - Editor : Rian - Sumber : Gema Saijaan Online

SHARE THIS

Facebook Comment

0 Comments: