Senin, 11 Februari 2013

“ Sa-Ijaan & Ikan Todak ” dan Asal Usul Pulau Laut

“ Sa-Ijaan & Ikan Todak ” dan Asal Usul Pulau Laut




Gema - Hai Sobat Gema Saijaan masih ingat ngga cerita tentang DATU MABRUR nah kita akan coba tulis asal usul dan legenda IKAN TODAK yang sekarang menjadi Lambang atau Iconnya KAB. KOTABARU.

Pada zaman dahulu kala ada seorang Datu sakti mandraguna yang karena kesaktiannya kala itu beliau dapat bertapa di tengah laut. Nama beliau adalah Datu Mabrur beliau kala itu sedang bertapa diantara Pulau Kalimantan dan Selat Makassar. Menurut legenda Datu Mabrur bertapa disana adalah untuk memohon kepada Tuhan Sang Pencipta agar diberikan sebuah pulau oleh-Nya, yang nantinya akan dijadikan tempat bermukim bagi anak cucu dan keturunannya kelak.

Dengan kebulatan tekadnya, Datu Mabrur tidak mundur dalam tapanya. Walaupun ketika malam hari cuaca sangat dingin, angin, hujan, embun, dan kabut seakan membekukan tubuhnya. Dan dikala siang terik matahari membakar seluruh tubuhnya yang hanya dibungkus sehelai kain. Tubuh Datu Mabrur kala itu menjadi sangat kurus karena dia tidak pernah makan, kecuali meminum air hujan dan embun yang membasahi bibirnya. Walau demikian tidaklah mundur tekadnya. Seluruh penderitaan itu sirna tatkala membayangkan mendapatkan sebuah pulau bagi anak cucunya kelak, tidak dibawah kekuasaan Pulau Kalimantan ataupun Pulau Sulawesi.

Pada suatu ketika menjelang hari akhir pertapaannya, saat itu kondisi air laut tenang sekali. Tiba-tiba seekor ikan besar muncul dari permukaan laut seakan terbang mengarah padanya. Rupanya ikan itu sengaja menyerang beliau. Menyaksikan itu Datu Mabrur tidak beringsut dari duduk tapanya, namun beliau hanya menepis serangan mendadak itu dengan tatapan matanya. Sungguh ajaib, hanya dengan tatapan matanya ikan itu terpelanting dan jatuh kembali ke air tanpa mampu menyentuh tubuh Datu Mabrur. Serangan ikan ini terjadi berulang kali. Bahkan tiba-tiba muncul ribuan ikan beraneka macam, berbobot besar mengepung beliau dengan memperlihatkan gigi dan tanduk runcingnya berkumpul mengelilingi beliau bagaikan prajurit perang yang sedang mengepung pertahanan musuhnya.
Para ikan ganas yang mengepung Datu Mabrur pada akhirnya benar-benar melakukan serangan beruntun tanpa henti kearah beliau, namun seluruh ikan yang menyerang tersebut jatuh persis ketika Datu Mabrur membuka matanya secara tiba-tiba.

Merasakan gerombolan ikan ini tidak akan berhenti menyerangnya, maka Datu Mabrur langsung berkata :
“Hai.. Ikan! Kenapa kalian mengganggu tapaku, ikan apa kalian ini?”, ujar Datu Mabrur.
“Kami ikan todak, dan aku Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Tahukah kau, tapamu membuat lautan kami bergelora? Kami terusik! Dan aku memutuskan untuk menyerangmu, tapi kami akui dirimu memang sakti. Hai Datu Mabrur, aku Raja Ikan Todak mulai hari ini mengakui takluk oleh mu”, ujar Raja Ikan Todak menjawab.
“jadi itu rakyatmu...?”, tanya Datu Mabrur sambil menunjuk ribuan ikan yang mengepung karang tempatnya bertapa.
“Ya, Datu. Tapi, sebelum menyerangmu tadi, kami telah bersepakat. Kalau aku kalah, kami akan menyerah dan mematuhi apa pun perintahmu Datu”, ujar Raja Ikan Todak menjawab dengan nada penuh kebesaran jiwa.
Walau demikian hingga berakhirnya hari pertapaannya, Datu Mabrur belum juga mendapatkan tanda atau wangsit bahwa permohonannya akan dikabulkan. Karena sejauh mata memandang yang tampak hanya laut luas yang membiru, hembusan angin laut yang menderanya. Tidak ada tanda-tanda pulau yang diharapkannya akan hadir dipelupuk matanya.
Disela-sela harinya, Datu Mabrur membantu mengobati Raja Ikan Todak yang terluka akibat pertempuran dengannya kemarin. Raja Ikan Todak menawarkan Datu Mabrur untuk tinggal di istana bawah lautnya yang terbuat dari emas dan permata, serta dilayani oleh dayang-dayang putri duyung yang rupawan. Akan tetapi tawaran menggiurkan itu ditolak dengan hormat oleh Datu Mabrur, sambil menceritakan niatnya bertapa diperairan itu.
Bak gayung bersambut sayap mengepak, maksud dan impian Datu Mabrur justru ditanggapi dengan serius oleh Raja Ikan Todak dengan menyanggupi akan mengabulkan keinginan dan niat tapa sang Datu. “Aku takkan berdusta, ini sumpah seorang Raja!”, ujar Raja Ikan Todak bersemangat.
Mendengar hal ini Datu Mabrur tersenyum lembut dengan penuh kasih sayang mengangkat sang Raja Ikan Todak itu dan mengembalikannya ke laut.
“Sa-Ijaan!”, seru Raja Ikan Todak.
“Sa-Ijaan!”, sahut Datu Mabrur.
“Sa-Ijaan!” yang artinya SEIYA SEKATA/SEPAKAT/SATU SUARA

Sebelum tengah malam sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur dikejutkan oleh suara gemuruh yang datang dari dasar laut. Ternyata dilihatnya jutaan ikan dari berbagai jenis muncul sembari mendorong daratan baru dari dasar laut dibawahnya. Sambil mendorong, jutaan ikan tadi serentak berteriak “Sa-Ijaan!”,

Melihat hal ini Datu Mabrur tercengang dikarang pertapaannya memandang Raja Ikan Todak benar-benar memenuhi sumpahnya. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun.
Alkisah, Pulau Halimun kemudian disebut Pulau Laut. Sebab pulau ini timbul dari dasar laut dan dikelilingi laut. Sebagai hikmahnya, kata Sa-Ijaan dan Ikan Todak dijadikan slogan dan lambang Pemerintah Kabupaten Kotabaru, Kalimatan Selatan.



-Sumber : Gema Saijaan Online
Tradisi Lomba Perahu Katir

Tradisi Lomba Perahu Katir



Gema - Hello Sobat Gema Saijaan Kali ini kita akan kasih artikel tentang "Tradisi Lomba Perahu Katir" Tau ngga sih Tradisi Lomba Perahu Katir itu apa ?

Tradisi Lomba Perahu Katir adalah Tradisi balapan atau lomba perahu katir yang biasa diselenggarakan antara bulan Juli-Agustus setiap tahun di Pulau Kerayaan sekitar 140 km sebelah selatan Pulau Laut 

Kotabaru. dan akan dijadikan wisata bahari andalan Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.

Katir Race (lomba perahu Katir), kegiatan Lomba Perahu Katir ini merupakan kegiatan tahunan yang sudah dijadwalkan dalam agenda kegiatan pariwisata Kabupaten Kotabaru. 


Kegiatan tersebut merupakan jenis kegiatan bahari yang menyerupai jenis kegiatan lomba perahu layar. Selain diikuti oleh peserta dari daerah sekitar Kabupaten Kotabaru sendiri, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta dari luar daerah, lomba tersebut terbuka untuk umum tidak hanya terbatas untuk warga sekitar saja.
Sebagai objek wisata adu perahu katir akan diadakan di kawasan lokasi Siring Laut dan Pantai Gedambaan yang relatif lebih dekat dengan ibukota kabupaten

Lomba perahu katir merupakan satu-satunya yang ada di Kotabaru dan tidak ada satu daerah lainnya di Indonesia yang menggelar event serupa.
Namun keinginan menjadi kegiatan nelayan berlomba perahu mini menjadi obyek wisata andalan itu mengalami kendala infrastruktur ke wilayah tersebut.
Hingga saat ini jalan yang mengakses ke lokasi obyek wisata di Pulau Kerayaan di Kecamatan Pulau Laut Kepulauan tersebut, masih banyak yang berlubang dan berbatu, serta ditumbuhi semak belukar.
Terutama badan jalan mulai dari, Tanjung Serdang, Salino, Semisir, Sungai Pasir, Semaras, Lontar hingga Tanjung Lalak.

Lomba perahu katir yang biasa dilakukan nelayan lokal untuk mengisi waktu saat beristirahat tidak melaut, karena angin kencang itu dapat dijadikan salah satu obyek wisata andalan, karena lomba tersebut hampir sama yang dilakukan oleh luar negeri.
Hanya besarnya perahu saja yang berbeda, kalau di luar negeri perahu dan layarnyanya berukuran besar, tetapi untuk di Pulau Kerayaan perahu dan layarnya berukuran kecil untuk satu operator.
Nah Sudah Pada Tahu kan



- Penulis : Nurul Auda - Editor : Erwin Gema Saijaan Online