Sejarah Kelenteng An Hwa Tian



GEMA - Kelenteng An Hwa Tian (Tepekong), adalah tempat ibadah warga Tionghoa di Kotabaru Kalimantan Selatan, yang berada di jalan Sisingamangaraja Pulaulaut Utara, berdiri sejak tahun 1895 dan satu-satunya di daerah ini.

Masyarakat Saijaan sering menyebutnya Tepekong cina, sejak dulu kelenteng ini di beri nama An Hwa Tian yang artinya keselamatan perantau warga Tionghoa.

Tepekong (kelenteng) ini di kelola oleh Darman Aman Santosa selaku ketua kelenteng, Nanang Hartono selaku penasehat klenteng dan Johan Bakti penjaga klenteng.

Kelenteng ini salah satu bangunan tertua di Kotabaru, dan bermula dari bangunan berbahan kayu namun seiring berkembangnya zaman kelenteng ini pun direnovasi berbahan semenisasi, dengan arsitektur yang sangat indah hingga memukau pandangan mata, tak jarang warga Saijaan menjadikan objek photo.

Kita semua pasti tau kelenteng memiliki bangunan yang beragam, namun yang sering dilihat pasti berwarna merah mencolok, karena dalam tradisi masyarakat Tionghoa warna memiliki arti tersendiri seperti warna merah melambangkan kegembiraan,kebahagiaan dan keberhasilan.

Selain itu warna merah juga menjadi warna dasar yang mampu membuat suasana menjadi hangat,bersemangat dan memberi sentuhan semarak khususnya pada perayaan Imlek.

sedangkan lukisan serta tekstur di kelenteng An Hwa Tian ini di ambil dari cina kuno, dengan gambar naga yang melambangkan binatang yang baik hati, sangat perkasa dan penguasa udara. Dan banyaknya lilin di dalam kelenteng baik ukuran kecil sampai yang besar yang selalu dinyalakan khususnya pada perayaan imlek, dipercaya nantinya sepanjang tahun rezeki selalu terang.

Ternyata lilin-lilin tersebut mempunyai nama yaitu, lilin panjang umur, lilin murah rezeki dan lilin perjodohan, yang mana biasanya pada perayaan imlek warga Tionghoa mempunyai beberapa tradisi yang masih dilakukan diantaranya tradisi bunga Mei Hua, adalah pertanda datangnya musim semi tradisi saji jeruk kuning, apel dan pear jeruk berarti besar rezeki.

sedangkan apel berarti besar kesehatannya dan keselamatannya dan untuk buah pear melambangkan kebahagiaan tradisi kue keranjang yang berbentuk bulat mengandung makna agar keluarga yang merayakan imlek dapat terus bersatu, rukun dan tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Perlu diketahui bahwa tradisi mercon, kembang api dan lampion merah, menurut legenda binatang buas bernama Nian Show takut pada benda berwarna merah, maka warga tionghoa menggantung kain, lampion dan kertas merah dilekgkapi puisi indah serta memasang mercon dan kembang api untuk mengusir makhluk Nian Show yang berupa hawa jahat.

Kita pasti kenal dengan barongsai dan naga (liong), ini merupakan tradisi tarian yang dianggap mendatangkan kebaikan, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan, bagi warga Tionghoa.

Mereka juga mempunyai tradisi angpao, ini bukan hanya sekedar dapat membawa keberuntungan, namun juga dapat melindungi anak-anak dari roh jahat. Dan tidak ketinggalan tebu, di yakini agar rezeki selalu manis dan keluarga pun selalu harmonis.






- Penulis : Siti Aisyah - Editor : Rian - Sumber : Gema Saijaan Online
Share on Google Plus

Tentang gemasaijaanonline

Gema Saijaan Online memberikan informasi seputar Kabupaten Kotabaru untuk ikut mencerdaskan anak bangsa

0 Comments :

Posting Komentar