Home » » Riwayat Gunung Jambangan

Riwayat Gunung Jambangan

Hak Cipta By : gemasaijaanonline Posting Hari : Selasa, 16 April 2013 Jam : 10:14:00 PM



Gema - Hello Sahabat Gema Saijaan kali ini kita akan sedikit menguak cerita tentang Riwayat Gunung Jambangan yang ada di Kotabaru, Nah Kalian Pasti Masih ingat cerita DATU MABRUR kan, Setelah bekerja keras semalam suntuk, Datu Mabrur melepas lelah sejenak di lepas pantai Kerajaan Pagatan. Matahari pagi telah terbit di ufuk timur, menyinari lautan dan pasir pantai tempat Datu Mabrur duduk mengaso.
            Dalam satu malam, ia telah menyelesaikan tugasnya, mengantarkan empat puluh satu batang pohon kayu ulin ke Kerajaan Banjar.
            Beberapa hari lalu, Patih Balit dari Kerajaan Banjar datang menemuinya. Utusan yang dikawal sejumlah prajurit itu menyampaikan amanat sultan mereka. Sultan Suriansyah ingin membeli batang pohon kayu ulin.
            Kata Patih Balit, Sultan Suriansyah ingin agar batang-batang pohon kayu ulin itu dikirimkan ke Kerajaan Banjar dalam tempo tiga hari.
            Batang-batang kayu besi itu akan digunakan sebagai tiang guru untuk membangun masjid, tempat ibadah bagi rakyat Kerajaan Banjar yang baru memeluk agama Islam, di Muara Kuin.
            Karena batang pohon kayu ulin yang terbaik di dunia berasal dari Pulau Halimun, Sultan Suriansyah sanggup membelinya, berapa pun harganya.
            Patih Balit memperlihatkan pundi-pundi berisi intan, berlian, jamrut, yakut, nilam biduri dan emas murni yang mereka bawa, sebagai alat pembayarannya.
            Melihat itu, Datu Mabrur cuma tersenyum. Ia meminta utusan itu  menyimpan kembali harta bendanya dan menyanggupi permintaan Sultan Suriansyah. Tanpa syarat apapun. Itu dilakukannya semata-mata sebagai sahabat.
            Datu Mabrur meminta utusan itu segera pulang dan menunggu. Ia berjanji akan mengantarkan sendiri batang-batang pohon kayu ulin itu.
            Setelah utusan itu pulang dan matahari terbenam di ufuk barat, seorang diri Datu Mabrur mencabut batang-batang pohon ulin yang sudah tua di hutan. Setelah  itu, ia langsung menggotong dan mengantarkannya ke Kerajaan Banjar.     
            Setiap kali, ia menggotong tiga batang. Batang pohon yang besarnya rata-rata  sepelukan orang dewasa dan panjang sembilan meter itu, dua diletakkannya di bahu, satu di kepala. Dengan kesaktiannya, Datu Mabrur melesat secepat kilat ke Kerajaan Banjar. Hal itu dikerjakannya berulang kali, hingga empat puluh satu batang pohon kayu ulin itu selesai diantarkannya sebelum terbit fajar.
            Namun, setiap kali pulang dari Kerajaan Banjar dan kembali ke Pulau Halimun, selalu ada pemandangan yang membuatnya tidak enak. Itulah yang kini membebani pikirannya.
            Sambil berdiri di pasir pantai Kerajaan Pagatan, ia memandangi Pulau Halimun. Di kejauhan, ia melihat ada sesuatu yang kurang. Di sebelah utara, Gunung Sebatung tampak berdiri kokoh. Tetapi, di sebelah selatan tidak ada gunung yang menjulang. Pemandangan yang tidak seimbang.
            Datu Mabrur teringat  Datu Pujung.
            Datu Mabrur ingin merundingkan masalah itu dengan Datu Pujung, yang tengah bersamadi di goa pertapaannya di Pulau Halimun.
            Dengan kesaktiannya, mereka melakukan pembicaraan jarak jauh.
            Duduk bersila di atas ombak laut di tepian pantai, Datu Mabrur bersamadi. Dalam samadinya, ia menyampaikan pemandangan yang dilihatnya dari tempat itu dan meminta pendapat Datu Pujung.
            “Aku pun sudah lama melihatnya!” sahut Datu Pujung dalam samadinya. “Di Pulau Halimun ini tidak ada gunung yang tinggi! Padahal itu penting sekali! Sebagai rambu bagi nelayan dan petunjuk dalam pelayaran!”
            “Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?” Datu Mabrur sebenarnya ingin mengusulkan sesuatu, tapi ragu-ragu. Ia tahu, tidak ada yang dapat memerintah Datu Pujung. Tidak ada yang berani menguji kesaktiannya. Orang yang kulitnya sehitam jelaga dan buruk rupa itu sulit ditebak. Kalau bicara, suaranya sekeras halilintar, meledak-ledak. Datu Pujung mudah tersinggung.
            “Kau punya usul, Mabrur?!”
            “Ya...” Datu Mabrur gembira, tak menduga Datu Pujung meminta sarannya.
            “Apa usulmu?!”
            “Bagaimana kalau kita mencari satu gunung lagi, dan meletakkannya di sana, di sebelah selatan?”
            “Di mana mencarinya?! Siapa yang mengerjakannya?! Apakah kita kerjakan bersama-sama?!”
            “Siapa lagi yang sanggup mengerjakannya selain Datu Pujung? Aku akan menunggu di pantai Pulau Halimun. Bagi datu, mudah saja mencari gunung berapi yang sudah mati di Jawadwipa, lalu mengangkutnya. Bagaimana?”
            “Tunggu aku di Pulau Halimun! Sebelum bintang pertama terbit malam ini, aku akan kembali!”
            “Baiklah,” sahut Datu Mabrur.
            Tanpa bicara lagi, Datu Pujung mengambil galah saktinya. Galah itu panjang sekali. Ujungnya menggapai awan. Dengan galah itu, Datu Pujung melompat dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, dari sungai ke laut, dari laut ke samudera, dari satu pulau ke pulau lainnya.
            Sebelum matahari terbenam, Datu Mabrur sudah kembali berada di Pulau Halimun. Sekilas, dalam cahaya jingga matahari senja, ia melihat bayangan Datu Pujung berkelebat di kejauhan. Ayunan ujung galahnya menjolok angkasa. Menghamburkan awan, menjadi hujan. Janggut dan jubahnya berkibaran.
            Di pantai Pulau Halimun, sebelum bintang malam terbit, Datu Mabrur mendengar desir angin dan suara ombak yang aneh. Seakan topan dan badai akan menjelma prahara. Tetapi, tidak. Ternyata, suara itu berasal dari riak dan kecipak ombak yang timbul dari langkah Datu Pujung yang datang memanggul gunung!
            Di atas riak ombak lautan, Datu Pujung berjalan sambil memanggul sebuah gunung yang tinggi dan besar sekali. Gunung itu diikatkan di ujung galahnya. Ia letih sekali, tapi tak mau ditampakkannya. Saat berhadapan dengan Datu Mabrur, ia berusaha keras tersenyum.
            Karena wajahnya jelek sekali, yang tampak bukannya senyum yang sedap  dipandang, tapi seringai yang aneh dan menyeramkan.
            “Engkau benar-benar hebat!” sambut Datu Mabrur. “Engkau telah menepati janji. Engkau kembali, sebelum bintang terbit malam ini. Istirahatlah dahulu, datu.”
            Datu Pujung tidak mempedulikan sambutan dan pujian Datu Mabrur.
            Diempaskannya galah saktinya dengan serampangan. Empasan itu membuat gunung di ujung galahnya jatuh berdebur di tengah lautan.
            Gelombang pasang yang terjadi akibat jatuhnya gunung itu menenggelamkan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Halimun. Air laut yang membuncah ke udara dan jatuh berderai membuat Pulau Halimun sesaat bagai dilanda hujan badai.
            “Aku masih kuat, tidak perlu istirahat! Kita segera bekerja!” kata Datu Pujung sambil menggerak-gerakkan otot leher dan bahunya yang pegal-pegal.
            “Bagaimana caranya, datu?”
            “Dengan galahku, kita panggul gunung ini berdua! Aku di ujung sini, engkau di ujung sana! Gunungnya kita ikat di tengah!”
            “Baiklah,” sahut Datu Mabrur.
            Keduanya berjalan di atas air laut dan mengikatkan gunung itu di tengah galah. Setelah terikat, mereka memanggulnya. Datu Pujung di depan, Datu Mabrur di belakang. Dalam temaram cahaya bintang, tubuh keduanya membesar, seakan raksasa, hampir sebesar gunung yang mereka panggul.
            Ketika keduanya tengah berada di sebelah barat Pulau Halimun, tiba-tiba tali pengikat gunung itu putus. Gunung itu jatuh berdebum. Melesak ke bumi. Tanah, debu, pasir, batu, ranting, daun-daun dan pepohonan beterbangan ke udara. Sesaat, langit menjadi gelap gulita.
            Datu Pujung langsung melesat menemui Datu Mabrur. “Aduh, kenapa bisa begini?!” katanya dengan wajah cemberut. Kesal dan marah.
            “Tenanglah, datu. Kita istirahat dulu....” Datu Mabrur berusaha menyabarkan.
            “Engkau tunggu saja di sini! Aku akan mencari tali! Aku akan minta bantuan siluman-siluman di Pulau Sembilan, Pulau Kerayaan dan Kerajaan Pagatan! Kita harus menyelesaikannya malam ini juga! Tidak bisa ditunda!”
            Tanpa menunggu jawaban lagi, Datu Pujung melesat dengan galahnya.
            Datu Mabrur tercenung. Bintang-bintang terbit dan bertaburan di langit, ditemani bulan sabit. Ia mengamati gunung itu dari segala sudut. Dari sisi timur, barat, utara dan selatan. Didakinya gunung itu dan dengan cermat mengukur ketinggiannya.
            Saat itulah Datu Mabrur melihat: puncak gunung itu sudah tidak ada lagi. Rompal. Robek. Bagian yang rompal itu persis di bekas tempat tali pengikat. Rupanya, ketika putus, talinya langsung memapas puncak gunung. Kalau dilihat dari kejauhan, bentuknya seperti jambangan bunga.
            “Datu Mabrur! Gunung ini tidak usah dipindahkan lagi! Kita biarkan saja di sini!” Tiba-tiba, entah lewat mana, Datu Pujung sudah ada lagi di samping Datu Mabrur.
            “Mengapa? Bukankah kita akan meletakkannya di sebelah selatan?”
            “Aku sudah memandangnya dari segala sudut, dari luar Pulau Halimun! Dari pantai Kerajaan Pagatan, Pulau Kerayaan dan Pulau Sembilan! Letak gunung ini sudah tepat, meskipun berada di sebelah barat!”
            “Kalau begitu, baiklah.”        
            “Jangan hanya ‘baiklah’, ‘baiklah’! Engkau setuju, tidak?! Jangan sampai terpaksa! Kalau memang tidak setuju, bilang saja!”
            “Aku setuju sekali. Sekarang, izinkan aku yang memberi nama gunung ini.”
            “Pilih yang sesuai dengan bentuknya! Apa namanya?!”
            “Gunung Jambangan.”
Nah Itu Sedikit RIWAYAT GUNUNG JAMBANGAN yang sekarang merupakan sebuah pemandangan khusus dengan keindahan alam yang langka, disamping potensi alam tersebut juga sebagai potensi tambang atau salah satu bahan baku industri.




- Penulis : @datutadungmura - Editor : Erwin - Sumber : Gema Saijaan Online
Share this article :

0 komentar:

SILAHKAN TINGGALKAN KOMENTAR ANDA DISINI

Komentar Anda Kami Anggap SPAM Bila Mengandung Unsur SARA, Pornografi, DLL ... !

Pilih Bahasa

 
Address : Jl.Jendral Sudirman No.82 Kabupaten Kotabaru
Telphone : 0812 5138 5020
Em@il : gemasaijaan@gmail.com
Website : www.gemasaijaanonline.info
Copyright © 2011-2016. Gema Saijaan Kotabaru Online - All Rights Reserved