Forum Kerukunan Masyarakat Saijaan Dideklarasikan


Baca Juga



D

ipimpin Ketua Dewan Pembina H. Irhami Ridjani, perwakilan masing-masing suku bangsa yang bermukim di Kotabaru bersama-sama membacakan deklarasi persaudaraan dalam bingkai Forum Kerukunan Masyarakat Saijaan (FKMS) Kabupaten Kotabaru.

Pertemuan Sabtu malam (2/10) di Panggung DKK Siring Laut ini lebih meriah, karena setiap undangan yang hadir mengenakan pakaian adat masing-masing yang menunjukkan asal daerah mereka. Pakaian yang jarang terlihat dalam kehidupan kesehariannya, kecuali pada momen tertentu saja.  


Bupati Kotabaru H. Irhami Ridjani selaku Ketua Dewan Pembina menyebutkan tiga komitmen yang dapat tercipta dari forum yang terbentuk ini, yakni budaya daerah, budaya solidaritas yang tinggi dan budaya persamaan dan kemitraan antara laki-laki dan perempuan.

“ Mari kita tumbuhkan semangat kebersamaan dan hidup berdampingan secara damai “  seru Irhami kepada warganya yang hampir semua etnis Indonesia ada di Kotabaru. Komunikasi dan persaudaraan, saling kerjasama dan bahu membahu yang terjalin selama ini hendaknya terus dipelihara untuk mendukung pembangunan di daerah ini.

Menyebut konflik SARA ( Suku, Agama, Ras dan Antar golongan ) yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Tarakan Kalimantan Timur, bupati menghimbau agar warga Kotabaru jangan mudah terprovokasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan kalaupun ada permasalahan hendaknya diselesaikan secara musyawarah dan bijaksana. “ Kita ikut bersimpati atas musibah yang menimpa saudara-saudara di Tarakan “ sebutnya, dan akibat konflik antar etnis tersebut, disamping adanya kerugian materi tentunya sangat mengganggu ketentraman dan keamanan masyarakat.

Pada malam deklarasi tersebut, keragaman budaya Kotabaru dapat dinikmati undangan dan penjunjung yang datang di Siring Laut melalui selingan pagelaran seni dan budaya dari beberapa etnis, diantaranya, dari warga Bali menampilkan tari Puspa Wasri.  Tarian penyambutan ini sebuah ungkapan rasa terima kasih warga atas kedatangan tamu yang mereka junjung tinggi. Kemudian tarian Saman dari Aceh, serta tampil kesenian khas padang pasir (Arab) marawis dibawah naungan forum komunikasi pemuda alawiyyin (FKPA) Kotabaru. Sedangkan ketangkasan meniti diatas seutas tali diperagakan warga Bajau.

Sementara pada sore Sabtu juga telah digelar Kesenian Jawa berupa campur sari dan reog Ponorogo. Dan dari etnis Tionghoa menyumbangkan kesenian andalan mereka sangat terkenal yakni Barongsai. (sfr)
Share on Google Plus

Tentang gemasaijaanonline

Gema Saijaan Online memberikan informasi seputar Kabupaten Kotabaru untuk ikut mencerdaskan anak bangsa

0 Comments :

Posting Komentar